Buah Pare Pahit Hasil Manis Untuk Budidaya. 081252271859 WA/SMS Pertanian Indonesia. Pertanian Indonesia adalah toko pertanian online terpercaya yang menyediakan berbagai sarana dan prasarana pertanian dengan harga murah dan kualitas unggul.
Buah pare memiliki rasa pahit. Namun, buah ini memiliki potensi hasil yang tergolong manis dan menjanjikan untuk petani sehingga petani cocok menanam buah pare.
Peria
Pare, peria, atau paria (Momordica charantia) adalah tanaman merambat yang berasal dari daerah Asia tropis, yaitu pada daerah India dan Burma. Tanaman ini termasuk dalam keluarga suku labu – labuan atau Cucurbitaceae.
Buah pare umumnya dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan atau sayuran. Sejak ratusan tahun lalu, buah dari tanaman ini sudah banyak dan populer dimanfaatkan di berbagai bangsa sebagai bahan obat dan sayur.
Awalnya, tanaman ini hanya berada pada kawasan Asia tropis, lalu mulai menyebar ke beberapa Negara Asia dan berbagai negara lainnya di dunia. Berdasarkan catatan sejarah ahli botani bernama Li di tahun 1578, pada abad ke 16 tanaman peria mulai dibudidayakan oleh petani.
Di Amerika Serikat sendiri, berdasarkan catatan Pusat Herbarium Nasional menyebutkan bahwa penyebaran paria mulai memasuki Benua Amerika (Puerto Rico) dan wilayah Afrika Barat pada saat masa perdagangan budak tahun 1885. Paria lalu makin berkembang pada daerah Amerika Serikat bagian selatan dan Amerika tropis.
Baca Juga : Pestisida Organik Dan Peran Pentingnya Dalam Pertanian
Manfaat Pare Untuk Kesehatan
Meskipun buahnya memiliki rasa pahit, pare memiliki kandungan nutrisi yang bermanfaat untuk tubuh. Karena itu, tak jarang buah pare kini banyak dikonsumsi karena manfaat yang dimiliki.
Beberapa manfaat yang terkandung dalam buah pare yaitu :
· Menurunkan berat badan
Buah pare kaya dengan kandungan antioksidan. Antioksidan ini mampu melancarkan sistem metabolisme dan pencernaan dalam tubuh, sehingga mampu menurunkan berat badan.
· Menurunkan demam
Mengkonsumsi buah pare mampu untuk menurunkan demam. Buah pare mengandung zat momordisin dan charantin yang mampu menurunkan dan menyembuhkan demam.
· Mengatasi sembelit
Nutrisi berupa serat terkandung dalam buah pare. Serat tersebut mampu melancarkan buang air besar dengan mudah, sehingga gangguan penyakit seperti sembelit bisa teratasi.
· Mengatasi cacingan
Ekstrak buah pare memiliki efek antihelmintik ampuh dalam melawan cacing, sehingga bisa mengatasi cacingan.
· Meningkatkan kesehatan tulang
Buah pare mengandung vitamin K yang sangat bermanfat untuk tubuh. Kandungan vitamin K ini mampu menyebarkan kalsium ke seluruh tubuh, sehingga kesehatan tulang menjadi meningkat.
· Menangkal radikal bebas
Vitamin C dalam buah pare mampu menangkal radikal bebas, sehingga mampu mengurangi resiko terserang penyakit kanker kulit dan kerusakan sel.
Benih Buah Pare
Buah pare meskipun memiliki rasa pahit namun tetap menjadi salah satu bahan dasar hidangan makanan dengan rasa lezat. Karena itu, untuk mendapatkan buah pare yang berkualitas terbaik maka perlu menggunakan benih pare kualitas terbaik.
Beberapa contoh produk – produk benih pare dengan kualitas unggul yaitu :
· Raden F1
Raden F1 adalah benih pare hibrida unggul kualitas terbaik produk PT East West Seed Indonesia, Tbk dengan merek dagang Panah Merah. Benih peria Raden F1 Cap Panah Merah cocok ditanam pada dataran rendah pada musim kemarau dan musim hujan.
Keunggulan dari Raden F1 Ewindo yaitu toleran penyakit antraknosa, buah berukuran besar, tahan proses pengepakan dan pengangkutan jarak jauh, serta potensi hasil tinggi.
Proses pemanenannya bisa dilakukan setelah tanaman paria Raden F1 berumur sekitar ± 45 hari setelah tanam dengan potensi hasil panen mencapai ± 40 ton per ha.
· Opal F1
Opal F1 adalah benih pare hibrida unggul kualitas terbaik produk dari PT East West Seed Indonesia, Tbk dengan merek dagang Panah Merah. Benih peria Opal F1 Cap Panah Merah cocok ditanam pada dataran rendah pada musim kemarau dan musim hujan.
Keunggulan dari Opal F1 Ewindo yaitu tahan serangan hama thrips dan Aphid, vigor kokoh, tekstur buah lentur, dan kulit buah Opal toleran retak.
Proses pemanenannya bisa dilakukan setelah tanaman paria Opal F1 berumur sekitar ± 42 hari setelah tanam dengan potensi hasil panen mencapai ± 55 ton per ha.
· Ranjau F1
Ranjau F1 adalah benih pare hibrida unggul kualitas terbaik produk dari PT East West Seed Indonesia, Tbk dengan merek dagang Panah Merah. Benih peria Ranjau F1 Cap Panah Merah cocok ditanam pada dataran rendah pada musim kemarau dan musim hujan.
Keunggulan dari Ranjau F1 Ewindo yaitu kulit buah toleran retak dan tahan simpan, tekstur buah keras serta lentur, vigor kokoh, dan mudah terjual ke pedagang besar dan kaki lima.
Proses pemanenannya bisa dilakukan setelah tanaman paria Ranjau F1 berumur sekitar ± 38 hari setelah tanam dengan potensi hasil panen mencapai ± 3 kg per tanaman.
· Lipa F1
Lipa F1 adalah benih pare hibrida berkualitas terbaik produk PT East West Seed Indonesia, Tbk dengan merek dagang Panah Merah. Benih peria Lipa F1 Cap Panah Merah cocok ditanam pada dataran rendah pada musim kemarau dan musim hujan.
Keunggulan dari Lipa F1 Ewindo yaitu tahan serangan hama Aphid dan thrips, pembentukan buah mudah, vigor kokoh, dan buahnya memiliki tekstur lentur.
Proses pemanenannya bisa dilakukan setelah tanaman paria Lipa F1 berumur sekitar ± 45 hari setelah tanam dengan potensi hasil panen mencapai ± 30 ton per ha.
Baca Juga : Sayur Buncis Kaya Nutrisi Mudah Dibudidayakan
Budidaya Pare Secara Tepat

Tertarik dengan prospek budidaya pare ?? Dengan potensi hasil yang menjanjikan maka tak ada salahnya jika Anda mulai melirik potensi budidaya buah pare ini.
Namun, sebelum melakukan budidaya pare secara tepat, Anda perlu memenuhi beberapa syarat untuk pertumbuhan sayuran pare. Beberapa syarat tumbuh yang harus dipenuhi dalam budidaya tanaman pare yaitu :
· pH tanah 4 – 7
· daerah lahan tanam berada pada ketinggian 0 – 1400 mdpl
· suhu optimum untuk pertumbuhannya sekitar ± 24 – 27° C
Setelah memenuhi syarat – syarat tumbuh diatas, kini Anda perlu melakukan budidaya pare secara baik dan benar. Cara melakukan budidaya pare secara baik dan benar yaitu :
· Persiapan Benih
Siapkan benih yang ingin Anda gunakan. Pilih benih yang berkualitas terbaik, lalu rendam benih dalam air hangat. Perendaman benih dalam air hangat dilakukan selama sekitar ± 30 menit. Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses perkecambahan benih.
Setelah 30 menit, lihat kondisi benih. Apabila terdapat benih yang mengambang, segera buang benih yang mengambang tersebut karena apabila digunakan akan menghasilkan kualitas tanaman yang buruk.
Setelah membuang benih yang mengambang, ambil benih yang mengapung dan tiriskan. Buat media semai dengan komposisi berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Berikan jarak tanam pada benih dengan jarak 2 x 2 cm. Masukkan bibit ke dalam wadah semai.
Sirami secara rutin 2 kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Setelah bibit berumur 3 minggu setelah semai atau sudah memiliki 3 – 4 helai daun, bibit sudah siap untuk dipindahkan ke lahan tanam.
· Pengolahan Lahan Tanam
Bersihkan lahan tanam dari gulma dan kerikil sampai bersih. Setelah bersih, gemburkan tanah dengan mengolahnya menggunakan cangkul atau traktor. Setelah gembur, buat bedengan dengan tinggi 15 – 20 cm, lebar 60 – 80 cm, dan panjang menyesuaikan dengan kondisi lahan tanam. Jangan lupa berikan jarak antar bedengan sekitar ± 2 – 2,5 m.
Selanjutnya, cek tingkat keasaman / pH tanah. Apabila masih belum sesuai, berikan dolomite / kapur pertanian untuk menetralkannya. Setelah netral dan sesuai, berikan pupuk dasar pada bedengan.
Gunakan pupuk dasar berupa ZA, KCl, dan TSP dengan perbandingan 1 : 1 : 2 dan dosis sebanyak 15 – 20 kg per 400 m². Taburkan pupuk pada bedengan sekitar 10 – 15 hari sebelum melakukan penanaman. Selanjutnya, buat lubang tanam pada dan berikan jarak sekitar 120 – 150 cm.
· Penanaman
Pindahkan bibit yang telah siap tanam dari hasil persemaian benih ke lahan tanam setelah memiliki 3 – 4 helai daun atau sudah berumur sekitar ± 3 minggu. Masukkan bibit ke dalam lubang tanam secara hati – hati, lalu tutupi dengan tanah sekitar. Untuk 1 lubang tanam diisi dengan 1 bibit paria.
Baca Juga : Cabai Merah Unggulan Petani Indonesia
· Perawatan
Setelah 8 – 10 hari, apabila terdapat bibit yang mati / tumbuh secara tidak sempurna segera sulami bibit. Untuk mencegah serangan hama, segera lakukan penyemprotan pestisida. Lakukan proses penyemprotan pestisida ini pada sore hari.
Sirami bibit secara teratur dan sesuaikan dengan kondisi cuaca. Pada musim kemarau, lakukan proses penyiraman pada pagi dan sore hari. Sementara pada musim hujan, tidak perlu melakukan penyiraman.
Untuk proses pemasangan ajir / lanjaran, sebaiknya lakukan pada saat sebelum melakukan proses penanaman. Gunakan ajir / lanjaran dari kayu / bambu yang kuat, lalu pasang dengan jarak sekitar ± 2,5 – 3 meter.
· Pengendalian Hama dan Penyakit
Serangan hama dan penyakit menjadi salah satu ancaman utama untuk petani. Apabila hama dan penyakit sudah menyerang dan dibiarkan saja, maka tanaman akan rusak dan membuat petani menjadi rugi.
Karena itu, melakukan pengendalian hama dan penyakit menjadi sangat penting untuk petani dalam mengatasi serangan hama dan penyakit.
Beberapa contoh hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman pare yaitu :
1. Kumbang
Hewan kumbang (Aulocophora silimis) umumnya menyerang bagian daun dan akar tanaman peria, sehingga menyebabkan kerusakan pada bagian tersebut. Kumbang dewasa menyerang bagian daun, sementara larvanya menyerang bagian akar.
Gejala tanaman terserang hama kumbang yaitu terjadi kerusakan pada akar dan daun, serta tanaman menjadi layu.
Untuk mengatasi serangan hama kumbang, caranya yaitu dengan menggunakan predator alami kumbang, menjaga kebersihan lahan tanam, melakukan rotasi tanaman, dan melakukan aplikasi insektisida sesuai dengan dosis.
2. Lembing
Hama lembing (Epilachma sparsa) merupakan hewan serangga yang termasuk dalam golongan kepik. Keberadaan hewan ini sangat mengganggu terutama pada tanaman paria, sehingga petani harus segera mengendalikan hama lembing.
Hewan lembing memiliki tubuh dengan panjang sekitar ± 12 mm. Pada saat bulan purnama, hewan ini mampu berkembang dalam jumlah banyak.
Gejala tanaman terserang penyakit hama lembing yaitu daun menjadi kering dan berwarna coklat, daun hanya menyisakan tulang daunnya saja, serta tingkat produksi buah menjadi menurun.
Untuk mengendalikan serangan hama lembing, caranya yaitu dengan menggunakan predator alami lembing, menggunakan lampu perangkap, melakukan pengairan secara teratur, dan melakukan aplikasi insektisida sesuai dengan dosis.
3. Embun Tepung
Penyakit embun tepung disebabkan oleh cendawan Erysiphaceae. Cendawan ini mampu bertahan pada sisa – sisa tanaman. Media penyebarannya bisa melalui media seperti air, angin, dan serangga.
Gejala tanaman terserang penyakit embun tepung yaitu terdapat tepung putih pada bagian bawah daun, bagian batang terlapisi oleh tepung, daun menjadi berwarna kuning, dan lama – lama tanaman akan mati.
Untuk mengatasi serangan penyakit embun tepung, caranya yaitu dengan membuang dan memusnahkan tanaman yang terserang, menjaga kebersihan lahan tanam, melakukan rotasi tanaman, dan melakukan aplikasi fungisida sesuai dengan dosis.
4. Antraknosa
Penyebab penyakit antraknosa yaitu infeksi cendawan Collectrichum sp. Bagian buah dan batang menjadi bagian tanaman yang sering terserang penyakit antraknosa.
Pada musim hujan, tingkat serangan cendawan Collectrichum sp. akan semakin parah. Karena itu, penyakit antraknosa harus segera dibasmi agar tidak menyebabkan kerusakan lebih parah.
Gejala tanaman terserang penyakit antraknosa yaitu terdapat bintik hitam pada daun, bagian batang dan buah mengalami kerusakan, dan lama – lama akhirnya tanaman akan mati.
Untuk mengatasi penyakit antraknosa, caranya yaitu dengan melakukan rotasi tanaman, memusnahkan tanaman yang terserang, menjaga kebersihan lahan tanam, dan melakukan aplikasi fungisida sesuai dengan dosis.
· Pemanenan

Proses
pemanenan tergantung dengan jenis varietas benih buah pare yang Anda tanam.
Potensi hasil panennya pn berbeda – beda tergantung dengan varietas benih yang
digunakan.
Ciri
– ciri buah pare siap panen yaitu :
1.
Buah tidak terlalu tua
2.
Bintil – bintil dan keriputnya masih agak
rapat
3.
Alumnya buah melebar
Untuk
cara panennya, lakukan dengan memetik buah pare menggunakan pisau atau alat
pemotong lainnya yang tajam. Potong bagian tangkai buah menggunakan pisau atau
gunting, setelah itu tempatkan buahnya dalam keranjang bambu secara rapi dan
teratur.
Apabila
buah pare disimpan terlebih dahulu sebelum dipasarkan, simpan pada tempat
dengan suhu sekitar 10 - 20° C agar buah pare menjadi
lebih tahan lama.
Baca
Juga : Sayuran Kubis Tanaman Sayuran Banyak Manfaat Untuk Petani
Demikian artikel berjudul Buah
Pare Pahit Hasil Manis Untuk Budidaya ini saya tulis dan sampaikan
kepada Anda. Semoga artikel ini bisa memberikan dampak dan manfaat positif
untuk kehidupan Anda.
Apabila masih terdapat hal
– hal yang kurang jelas Anda bisa menghubungi Pertanian Indonesia melalui layanan chat pada laman web kami atau
melalui no. telepon 081252271859 (Khusus
Layanan WA/SMS). Salam sukses dan sampai jumpa pada artikel lainnya.