Herbisida Topshot Atasi
Gulma Secara Mudah. 081252271859
WA / SMS Pertanian Indonesia. Pertanian
Indonesia adalah toko pertanian online yang menyediakan berbagai sarana dan
prasarana pertanian kualitas terbaik dengan harga murah. Rev. 1 / 03 / 21.
Herbisida Topshot sudah lama dikenal petani Indonesia sebagai produk pestisida ampuh untuk mengatasi perkembangan gulma. Penggunaan Topshot obat rumput sebagai racun rumput ampuh untuk meminimalisir kerusakan pada tanaman budidaya akibat gangguan dari gulma.
Ancaman Gulma Terhadap Tanaman
Gulma adalah salah satu
ancaman nyata bagi petani dalam melakukan budidaya tanaman. Gangguan gulma bisa menyebabkan kerusakan pada tanaman, baik
dalam skala kecil ataupun skala besar.
Untuk mengatasinya, petani
biasanya mengendalikan perkembangan gulma dengan cara melakukan penyiangan.
Namun, meskipun begitu cara ini dinilai tidak terlalu efektif terutama pada
daerah –daerah dengan tenaga kerja terbatas.
Kerusakan akibat gulma
bervariasi, tergantung dengan jenis gulma, iklim, serta jenis tanaman. Pada
Negara – Negara berkembang, kerusakan akibat rumput liar dalam jumlah besar
mampu mengakibatkan ketersediaan pangan dunia.
Apabila tak segera
dikendalikan, serangan gulma akan menjadi tak terkendali serta menyebabkan
kerusakan cukup besar. Kerusakan – kerusakan akibat gulma contohnya seperti :
·
Menghasilkan senyawa Allelopathy, yaitu semacam senyawa kimia yang dihasilkan oleh
rumput liar. Senyawa ini bersifat beracun, sehingga pertumbuhan tanaman lainnya
menjadi rusak.
·
Menghambat pekerjaan petani, seperti dengan
adanya duri – duri pada Mimosa spinosa serta Amaranthus
spinosus
·
Menjadi perantara serta sumber penyakit
untuk tanaman
·
Menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia
·
Menyebabkan persaingan dengan tanaman
budidaya dalam mendapatkan nutrisi, sehingga tanaman budidaya sulit mendapatkan
air, unsur hara dalam tanah, serta kemampuan berproduksinya menjadi berkurang
·
Biaya pengeluaran oleh petani menjadi
semakin besar
·
Tingkat efisiensi sistem irigasi sistem
irigasi menjadi berkurang, sehingga sebagian aliran air menjadi terbuang
percuma
Baca
Juga : Buah Pare Pahit Hasil Manis Untuk Budidaya
Teknik Pengendalian Gulma

Cara ini adalah usaha yang
dilakukan untuk menekan laju serta memusnahkan gulma pada tanaman budidaya. Untuk
bisa mengendalikannya, harus dilakukan secara tepat waktu agar lebih hemat
biaya, waktu, serta tenaga.
Periode waktu tepat untuk
mengendalikan gulma yaitu pada waktu periode kritis tanaman, yaitu pada saat
tanaman sangat peka terhadap lingkungan. Periode ini terjadi pada saat umur ¼,
1/3, sampai ½ dari umur tanaman.
Beberapa teknik pengendalian
gulma yaitu :
·
Pencegahan
(preventif)
Contoh
tindakan dari pencegahan atau preventif ini yaitu dengan membersihkan bibit
tanaman dari kontaminasi biji gulma, serta mencegah penggunaan pupuk kandang
matang.
·
Pengendalian
secara biologis
Contoh
tindakan pengendalian secara biologis yaitu dengan menggunakan organisme lainnya,
semisal bakteri, fungi, serta insekta.
·
Pengendalian
secara fisik
Contoh
tindakan pengendalian secara fisik diantaranya yaitu dengan pengolahan tanah, penggenangan,
pembabatan, pembakaran, serta menggunakan mulsa.
·
Pengendalian
secara kimiawi
Contoh
dari pengendalian secara kimiawi adalah dengan menggunakan herbisida. Cara ini
termasuk dalam salah satu cara yang jadi andalan petani Indonesia dalam
mengatasi serangan gulma. Hal tersebut bisa tercermin dari banyaknya produk – produk
pestisida unggulan di pasaran Indonesia.
Herbisida Sebagai Cara Ampuh Mengatasi Gulma
Seperti yang telah
diketahui sebelumnya, penggunaan herbisida untuk mengatasi gulma termasuk
banyak dilakukan oleh petani Indonesia. Karena itu, salah satu cara yang
direkomendasikan adalah dengan melakukan aplikasi herbisida pada tanaman, namun
harus sesuai dengan dosis anjuran.
Herbisida adalah bahan –
bahan / zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan / mengatasi serangan
gulma, seperti alang – alang, semak, dll. Herbisida / racun rumput diaplikasikan
sesuai dengan tingkat pertumbuhan gulma serta tanaman budidaya.
Penggunaan herbisida ini
bisa mempengaruhi berbagai proses – proses pada tumbuhan untuk menjaga
keberlangsungan hidupnya. Selain itu, herbisida juga bersifat racun terhadap
gulma atau tanaman pengganggu.
Herbisida sudah mulai
dikembangkan pada tahun 1940 – an. Pada era sebelumnya, asam sulfat serta garam
dapur telah lama digunakan untuk mematikan tumbuhan, sehingga bisa termasuk
juga sebagai herbisida.
Selanjutnya, perkembangan
pestisida belum terlalu pesat sampai setelah masa Perang Dunia II. Pada tahun
1945, muncul herbisida 2,4 D yang dikembangkan oleh tim dari Inggris yang
menginginkan agar produksi pangan menjadi meningkat.
Penemuan 2,4 D ini
memberikan konsep jelas mengenai herbisida, yaitu efektif dalam jumlah sedikit,
sistemik, serta selektif. Penemuan ini membuat petani dari Amerika serta Eropa
menjadi tertarik, karena di waktu tersebut bertepatan dengan berkembangnya
metode mekanisasi pertanian.
Pada tahun 1970,
penggunaan herbisida semakin meluas dan membuat semakin banyak jenis formulasi
yang dipakai. Selain itu, kuantitas serta luas areal yang disemprot juga
menjadi semakin meningkat. Jenis herbisida yang banyak digunakan yaitu diuron,
paraquat, 2,4-D, serta amitrol.
Berdasarkan pendapat Soerjaniet
al. (1977), penggunaan herbisida
di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kurangnya tenaga kerja di berbagai tempat,
terutama pada daerah perkebunan yang disebabkan oleh penyerapan tenaga kerja kecil.
Berdasarkan waktu
aplikasinya, herbisida terbagi menjadi 2 jenis yaitu herbisida pratumbuh serta pasca
tumbuh. Untuk tipe pertama, umumnya disebarkan pada lahan tanam setelah diolah
namun sebelum benih mulai ditebar. Tipe ini juga biasanya bersifat non
selektif, dengan artian membunuh semua tumbuhan yang telah ada sebelumnya.
Untuk tipe kedua, umumnya
diberikan setelah bibit mengeluarkan daun pertamanya. Biasanya, tipe kedua ini bersifat
selektif, dengan artian bahwa tidak mengganggu tumbuhan utama.
Sementara untuk cara
kerjanya, herbisida juga terbagi menjadi 2 jenis. 2 jenis tersebut yaitu herbisida
sistemik serta kontak. Tipe sistemik bekerja dengan cara menganggu enzim dimana
memiliki peran dalam membentuk asam amino yang tanaman butuhkan serta mudah
menyerap ke seluruh bagian jaringan tanaman.
Untuk tipe kontak, tipe
ini bekerja dengan cara mengganggu tanaman dalam proses fotosintesis, sehingga
gulma akan secara langsung mati apabila terkena jenis pestisida ini.
Dengan sejarah panjang
tersebut, kini Anda sudah tau tentang peran penting herbisida bagi
pemberantasan gulma.
Dampak Negatif Penggunaan Herbisida Secara Berlebihan
Meskipun penggunaan
herbisida menguntungkan untuk petani, namun penggunaannya dalam jumlah
berlebihan akan memberikan dampak negatif, terutama untuk tanaman utama.
Contoh lain dari dampak negatif
penggunaan herbisida dalam jumlah berlebihan yaitu :
·
Hama
menjadi kebal
Penggunaan
zat kimia ini dalam jumlah berlebihan membuat hama menjadi kebal. Penyebabnya,
mereka mampu beradaptasi dengan polutan yang ada serta mampu bertahan lama dari
perkiraan
·
Tingkat
kesuburan tanah menjadi berkurang
Kesuburan
tanah bisa berkurang karena pemberian dosis pestisida berlebih. Hal tersebut
diakibatkan oleh cacing tanah yang berfungsi untuk menggemburkan tanah
menghindari daerah tanah yang diberikan pestisida tersebut.
Akibat
kurang suburnya tanah, maka bagian tanah tersebut akan diberikan pupuk.
Pemberian pupuk tersebut bisa menyebabkan tanah menjadi asam serta menjadi
bertambah tidak subur.
·
Memicu
punahnya spesies organisme tertentu
Zat
polutan berbahaya yang ditebarkan di tanah bisa menyebabkan keracunan pestisida
pada hewan seperti cacing yang berfungsi untuk menyuburkan tanah. Sehingga,
meskipun hewan – hewan tersebut memiliki kekebalan mereka juga memiliki
batasan. Apabila tidak segera dihentikan, maka bisa mengakibatkan punahnya
spesies hewan.
·
Jumlah
hama menjadi meledak dalam jumlah besar
Penggunaan
dengan dosis berlebihan bisa meracuni fauna – fauna kecil yang menjadi makanan
dari hewan – hewan predator seperti cacing, semut, dsb. Dengan matinya hewan
makanan predator, hal tersebut menyebabkan predator menjadi kehilangan sumber
makanan dan mengakibatkan kematian.
Tanpa
kehadiran predator, maka jumlah hama akan bertambah besar serta menyebabkan
kerusakan pada tanaman menjadi lebih parah. Selain itu, petani akan
mengeluarkan biaya lebih besar untuk mengatasinya.
·
Mencemari
lingkungan
Penggunaan
dengan dosis berlebihan mampu kebanyakan tidak mengenai sasaran dengan tepat. Karena
itu, zat – zat kimia yang masuk ke dalam tanah menjadi lebih banyak dan
mengalir ke lingkungan lainnya.
Bagian
– bagian tanah yang telah tercemar pestisida serta herbisida akan semakin
meluas, merusak lahan – lahan lainnya. Selain itu, zat – zat kimia tersebut
mampu menuju ke daerah aliran sungai serta danau yang dibawa melalui media air
hujan.
Baca
Juga : Timun Zatavy F1 Kualitas Terbaik Untuk Petani Indonesia
Herbisida Topshot 60 OD

Seperti yang telah
disebutkan diatas, penggunaan herbisida merupakan cara ampuh untuk mengatasi
serangan gulma. Asalkan diberikan sesuai dengan dosis dan tidak berlebihan,
manfaatnya akan bisa sangat berdampak positif untuk petani.
Nah, kali ini Pertanian Indonesia akan membahas
mengenai produk herbisida unggul yaitu Topshot
60 OD. Hmm apa itu Topshot 60 OD
??
Topshot
60 OD adalah produk herbisida
unggul produksi dari PT Dow AgroSciences
Indonesia (Dow Chemical). Herbisida Topshot / Topshot obat rumput tergolong ke dalam
kategori herbisida sistemik purna tumbuh dengan bentuk formulasi berupa
larutan dalam minyak berwarna putih pekat dan berbahan aktif Butil
sihalofop 50 g/L dan penoksulam 10 g/L.
Topshot herbisida produk Dow AgroSciences ramah terhadap
lingkungan sekitar, sehingga tak heran jika banyak petani menggunakan Topshot obat rumput untuk membasmi gulma.
Beberapa keunggulan dari Topshot herbisida :
·
Tidak menyebabkan toxic, sehingga daun pada
tanaman tetap berwarna hijau
·
Topshot herbisida bekerja secara sistemik, sehingga
hanya dalam waktu 3 hari saja hasil aplikasinya sudah mulai terlihat dan
memuaskan petani
Contoh tanaman yang cocok
diaplikasikan menggunakan Topshot yaitu salah satunya adalah padi sawah. Jenis
tanaman padi sawah beserta dosis aplikasinya yaitu :
·
Padi sawah tanam pindah (tapin) : untuk
mengatasi serangan gulma berdaun lebar Ludwigia octovalvis. Untuk
mengatasinya, lakukan dengan cara penyemprotan volume tinggi menggunakan pestisida
Topshot dengan dosis sebanyak ± 1 – 1,5 l/ha.
·
Padi sawah tabur benih langsung (tabela) :
untuk mengatasi serangan gulma berdaun sempit Echinochloa crus-galli
dan Leptochloa
chinensis, rumput teki Cyperus iria dan Fimbristylis
miliacea, serta gulma berdaun lebar Ludwigia octovalvis.
Untuk mengatasinya, lakukan dengan cara
penyemprotan volume tinggi menggunakan pestisida Topshot dengan dosis sebanyak ±
0,75 – 1,5 l/ha.
·
Padi sawah tanam pindah (tapin) : untuk
mengatasi serangan rumput teki Fimbristylis miliacea dan Cyperus
iria, gulma berdaun sempit Leptochloa chinensis dan Echinochloa
crus-galli, serta guma berdaun lebar Alternanthera philoxeroides.
Untuk
mengatasinya, lakukan dengan cara penyemprotan volume tinggi menggunakan
pestisida Topshot dengan dosis sebanyak ± 0,75 – 1,5 l/ha.
Baca
Juga : Pestisida Organik Dan Peran Pentingnya Dalam Pertanian
Hal – hal Penting Saat Mengaplikasikan Topshot
Selama mengaplikasikan
Top shot herbisida, ada beberapa hal – hal penting yang harus menjadi catatan selama melakukan
aplikasi pestisida Topshot. Beberapa contoh hal – hal penting tersebut yaitu :
·
Baca petunjuk penggunaan terlebih dahulu pada
bagian kemasan Topshot 60 OD agar hasil yang didapatkan tetap maksimal
·
Topshot 60 OD tersedia dalam kemasan botol
250 ml dan 500 ml serta bisa dibeli melalui Pertanian Indonesia.
·
Herbisida Topshot 60 OD yang Pertanian
Indonesia jual adalah produk asli dari Dow
Agro. Pertanian Indonesia siap mengirim Topshot harga murah dengan jaminan
pasti sampai ke alamat tujuan
· Top shot herbisida bisa mengakibatkan
keracunan melalui kulit, mata, dan saluran pernafasan. Karena itu, simpan
Top shot herbisida pada tempat yang jauh dari jangkauan anak – anak untuk menghindari dari
hal – hal tidak diinginkan
Selain beberapa poin
diatas, dalam mengaplikasikan herbisida
Topshot harus menerapkan prinsip 4 T. Prinsip 4 T tersebut sangat penting
untuk petani, sehingga harus dilakukan oleh petani untuk lebih mempermudah
pekerjaannya. Prinsip – prinsip 4 T diantaranya yaitu :
· Tepat
Cara : Dalam menggunakan Topshot, kondisi lahan harus dalam
keadaan basah. Dengan sistem kerja secara sistemik, aplikasi herbisida Topshot
bisa terlihat 3 hari setelah aplikasi. Rumput liar akan terlihat menguning,
lalu setelah 10 hari menjadi berwarna hitam kecoklatan.
· Tepat
Dosis : Penggunaan dosis Topshot harus sesuai dengan dosis, yakni sekitar ± 0,75 – 1,5 liter / Ha. Sesuaikan
dosis terhadap tingkat kepadatan gulma. Tambahkan dosis aplikasi Topshot
menjadi lebih tinggi apabila tingkat populasi gulma cukup tinggi.
·
Tepat
Waktu : Lakukan aplikasi Topshot saat rumput liar sudah
memiliki 3 – 5 helai daun.
· Tepat
Sasaran : Gunakan Topshot sesuai dengan jenis gulma yang
menyerang, sehingga menjadi tepat sasaran.
Baca
Juga : Sayur Buncis Kaya Nutrisi Mudah Dibudidayakan
Demikian artikel berjudul Herbisida
Topshot Atasi Gulma Secara Mudah ini saya tulis dan sampaikan kepada
Anda. Semoga artikel ini bisa memberikan manfaat dan dampak positif untuk Anda.
Apabila masih terdapat hal
– hal yang kurang jelas atau ingin Anda tanyakan langsung saja hubungi Pertanian Indonesia melalui layanan
chat di laman web kami atau melalui no. telepon 081252271859 (Khusus
Layanan WA/SMS). Salam sukses dan sampai jumpa pada artikel lainnya.